• Kehidupannya,  Mekkah

    Pohon Keturunan Nabi Ibrahim

    Nabi akhir zaman yang dinantikan semesta akan lahir di tempat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan amanah yang dititipkan. Yaitu putranya, Nabi Ismail yang sejak dini ditinggalkan di lembah Bakkah, tempat yang suci. Namun diperlukan masa yang cukup lama sebelum akhirnya kelahiran Sang Kebanggaan Umat Manusia itu terjadi. Cahaya Sang Nabi pun berlanjut dibawa oleh silsilah keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Nabi Ismail memiliki 12 anak. Di antara putranya tersebut, ada yang bernama Nabit tampak memiliki keistimewaan dari yang lain. Keistimewaan itu lantas diturunkan kepada anak cucunya, Ya’rub, Teyrah, Nahur, Mukawim, Udad dan Adnan. Tampak jelas bahwa mereka memiliki ciri khusus yang mampu mengemban amanah berupa cahaya Risalah dan Kenabian dalam sulbi mereka.…

  • Gambar Ilustrasi
    Kehidupannya,  Mekkah

    Mereka pun Berlari menuju Cahaya…

    Saat itu, Amir bin Rabiah, Abu Hudzaifah putra Utbah Bin Rabiah, Ubaidah bin Jarrah, Usman bin Maz’un beserta kedua saudaranya Kudamah dan Abdullah, Asma binti Umais, Ummu Ayman dan istri Abbas paman nabi Ummu Fadl, serta saudara Ali, Ja’far bin Ali Thalib, satu per satu bersimpuh dihadapan Nabi mengikrarkan keislamannya.[1]  Agama Islam menyebar begitu cepat di kalangan insan-insan yang haus nilai luhur dan kebenaran. Penduduk Makkah terus berlarian menuju sumber cahaya untuk menjadi manusia yang utuh. Demikianlah yang terjadi di tiga tahun pertama kenabian. Kala itu dakwah Islam masih tersebar dalam lingkup yang sangat terbatas. Para Sahabat menyampaikan kebenaran Islam secara individu dan sembunyi-sembunyi. Wahyu Ilahi satu per satu turun…

  • Kehidupannya,  Mekkah

    Sayyidina Ali dan Keputusan Besarnya

    Τiba-tiba, suasana di kediaman Al-Amin, Muhammad shallallahu alaihi wasallam berubah drastis; kepanikan, keinginan untuk segera bertemu Waraqah bin Naufal, kekhawatiran sekembalinya dari gua Hira serta kecemasan Sayyidah Khadijah membuat suasana rumah saat itu amat berubah. Ali yang masih belia menyaksikan perubahan mencolok ini. Dengan rasa ingin tahu, diam-diam ia perhatikan sikap Nabi, gerakan shalatnya dan apapun yang terlihat berbeda. Padahal, kala itu ia masih berusia sepuluh tahun.  Tak berselang lama, Ali pun bertanya heran, “Gerakan apa yang baru saja Engkau lakukan?” “Aku melakukan shalat untuk menyembah Allah semesta alam,” jawab Sang Nabi. Ali yang baru pertama kali mendengar perkataan itu, tak sabar untuk kembali bertanya, “Siapa Allah semesta alam itu?”…

  • Kehidupannya,  Mekkah

    Kedatangan Abu Dzar ke Makkah serta Pengalaman Pahit yang Dialaminya

    Peristiwa agung diutusnya Nabi terakhir menggemparkan seantero kota Makkah. Ya, mata air hidayah telah datang, yang akan mengakhiri kemarau panjang sejak berabad-abad lamanya. Orang-orang pun bersegera menuju mata air itu demi menghilangkan dahaga jiwa yang dirasakan. Tak hanya dahaga sendiri, namun juga berusaha menuntun orang lain untuk dibawa ke sumber air ketenangan itu. Bertahun-tahun sudah, kehadiran anugerah terbesar ini dinantikan. Tatkala apa yang dinanti datang, hati mereka pun bergelora penuh  kegembiraan. Diantara yang tengah merasakan gejolak itu ialah seorang orator ulung dari kabilah Gifar, yaitu Abu Dzar. Telah sampai padanya kabar diutusnya seorang Nabi di kota Makkah. Ia pun tak kuasa menahan rindu untuk segera berjumpa. Akhirnya, demi memastikan kabar…

  • Kehidupannya,  Mekkah

    Seorang Penggembala yang Jujur dan Mukjizat Air Susu Domba

    Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersama sahabatnya Abu bakar Assiddiq keluar dari kota Makkah untuk mencari ketenangan. Di tengah perjalanan, terlihat oleh mereka seorang penggembala bernama Abdullah bin Mas’ud[1] yang sedang mengawasi sekelompok domba milik seorang pembesar Makkah, Uqbah bin Muaith. Pemuda penggembala itu mengenal baik Muhammad Al-amin dan Abu bakar yang tengah jadi perbincangan di seantero kota Makkah. Bahkan, dia juga mendengar berbagai tuduhan buruk atasnya. Sebab tuannya, Uqbah bin Muaith sangat membenci sosok Muhammad Al-amin dan Abu bakar, di setiap kesempatan ia kerap menyebar cercaan buruk tentang mereka. Namun, Ibnu Mas’ud yang merupakan pemuda yang bijaksana tidak serta merta terpengaruh, ia mampu menentukan sikapnya sendiri. Setiap…

  • Kehidupannya,  Mekkah

    Permulaan Salat dan Wudu (17 Ramadhan Tahun ke-1 Kenabian)

    Sang penyampai wahyu terpercaya, Malaikat Jibril kembali datang menemui Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di puncak tertinggi Kota Makkah. Kedatangan Malaikat  Jibril ‘alaihi salam kali ini adalah  untuk mengajarkan baginda Nabi tata cara berwudu dan salat. Di lembah itu, dari bawah kaki Rasulullah tiba-tiba muncul sumber mata air. Menggunakan air dari sumber mata air tersebut Malaikat Jibril berwudu terlebih dahulu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperhatikan dengan saksama guna mempelajari bagaimana melakukan wudu dengan benar. Lalu beliau berwudu seperti yang ditunjukkan oleh Malaikat Jibril. Tibalah waktu untuk salat. Malaikat Jibril mengawali mendirikan salat, kemudian diikuti oleh Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pulang ke rumah beliau. Untuk…

  • Kehidupannya,  Mekkah

    Menepati Janji

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalani kehidupan yang sangat istimewa, bahkan sebelum mengenal Malaikat Jibril ‘alaihi salam. Sehingga dengan demikian, orang-orang yang pernah mendapat kesempatan hidup bersamanya dapat mengenal berbagai keutamaan berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan dari diri beliau. Semua ini lantas menjadi kenangan indah tak terlupakan yang terpatri dalam ingatan setiap orang. Suatu ketika Rasulullah mengadakan perdagangan dengan seorang pemuda bernama Abdullah bin Abi Hamsah. Pemuda itu berhutang kepada Rasulullah. Mereka pun bersepakat tentang kapan dan di mana hutang itu akan dibayarkan dan lantas berpisah. Lalu tiba saat yang disepakati sehingga Rasulullah pun pergi ke tempat itu dan menunggunya. Pada saat itu Rasulullah menunggu hingga petang, tetapi Abdullah sepertinya lupa…

  • Kehidupannya,  Mekkah

    Rukun Yamani, Menyentuhnya sebagai Pengugur Dosa

    Saat mengitari Ka’bah tidak disunahkan untuk memberi istilam (melambaikan tangan dari jauh ke arah ka’bah atau mengusapnya dari dekat) di semua sudutnya. Rasulullahlah yang menjadi teladan untuk mengetahui sudut mana dari ka’bah yang disunahkan untuk beristilam atapun tidak saat tawaf.  Jika kita menelisik apa yang telah dilakukan baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka akan kita temukan bahwa beliau hanya beristilam kepada dua sudut Ka’bah saja: Rukun Yamani dan Rukun Hajar Aswad. Rukun Yamani adalah nama untuk bagian sudut ka’bah yang mengarah ke negeri Yaman. Abdullah bin Umar mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap mengitari Ka’bah tidak pernah meninggalkan istilam pada Rukun Yamani dan Rukun Hajar Aswad”.[1] Mengenai hal ini, Abdullah…

  • Kehidupannya,  Mekkah

    Periode Mekah Sebelum Masa Kenabian

      Periode Mekah Sebelum Masa Kenabian 571 M. Wafatnya Abdullah ibn Abdul Muthalib, ayah Baginda Nabi ﷺ Tahun gajah. Kelahiran ayah Baginda Nabi ﷺ. Penyerahan Baginda Nabi ﷺ kepada Halimatus Sa’diyah sebagai ibu persusuan. 573 M. Halimatus Sa’diyah membawa Baginda Nabi ﷺ ke Mekah untuk diantarkan kepada ibu kandungnya, tetapi kemudian dibawanya kembali ke perkampungan Bani Sa’ad karena khawatir akan wabah di Mekah. 574 M. Kelahiran Sayyidina Abu Bakar radliyallahu ‘anhu 575 M. Peristiwa syaqqus shadr: dalam kamus syaqq berarti membelah dan shadr berarti dada. Jika digabungkan maknanya menjadi pembelahan dada. Dalam sumber lain disebut shorih shadr, Shorih (صريح) yang berarti membuka. Penjelasan dalam sumber-sumber sirah dan hadits tentang hal…

  • Kehidupannya,  Mekkah

    Wafatnya Ibunda Aminah

        Pada akhirnya, hamba yang paling dicintai Allah itu pun tinggal bersama ibunda tercinta, Sayyidati Aminah. Ibunya itu menyayangi Beliau dan selalu berusaha agar Nabi Muhammad tidak merasakan keyatimannya. Terkadang ia berjalan-jalan bersama kakeknya Abdulmutthalib, kadang melewati waktu-waktu menyenangkan bersama paman-pamannya.   Di hati ibunda Aminah bersemi kerinduan pada tanah Madinah, selain ingin bersilaturahim dengan kerabat-kerabatnya yang ada di sana, ia ingin pula berziarah ke makam suaminya Abdullah. Maka berangkat lah ia bersama sang putra tercinta Muhammad dan Ummu Ayman. Akhirnya, sampailah mereka ke tanah Madinah. Di satu sisi timbul kebahagiaan di hatinya saat teringat kebahagiaan yang pernah dirasakan di sana bersama suami namun sesaat kemudian terasa pula kepedihan…